Kisah Kawan-Kawan Yang Drop Out dari Kampus Paling Bergengsi di Dunia

Menyambut Daniel Maren kawan di Stanford University saat berada di Jakarta.

Kemarin pagi saya mendapatkan email dari salah satu kawan lama saya bernama Daniel Maren. Dia adalah mahasiswa Stanford University, USA.

Dia memberitahu kalau akan berkunjung ke Jakarta dan akan sampai pada siang harinya dari Singapore, akhirnya sore kemarin kami bertemu.

Pertemuan saya dengan dia sebelum kami saling kenal sungguh unik, kami bertemu saat makan malam di salah satu kantin di kampus Stanford University. Kebetulan dia duduk disebelah saya bersama John Backus dan ternyata dia juga kawan baik dari teman sekamar saya. Sejak saat itu kami berteman dan bersama kawannya yang lain sering datang kekamar saya dan berdiskusi banyak hal.

Saya kaget, ternyata dia sudah tidak lagi kuliah di Stanford University, dia memutuskan untuk Drop Out dari salah satu kampus terbaik di dunia tersebut. Yang lebih bikin kaget adalah beberapa kawan satu asrama saya yang hampir setiap malam datang kekamar saya menemani berdiskusi juga memutuskan untuk Drop Out (DO). Mereka semua memutuskan untuk DO dari kuliah S1-nya dan mereka DO selang 4 bulan setelah pertemuan kami pada 2013 lalu.

Saya heran mendengar kabar tersebut, padahal masuk ke Stanford University adalah dambaan setiap calon mahasiswa dari seluruh dunia, Stanford adalah salah satu kampus terbaik di planet ini dimana Google, Apple dan banyak perusahaan teknologi terbaik di jagad ini lahir dari kampus itu.

Bersama kawan sekamar saat di Stanford University. Dikamar inilah kami semua mendiskusikan banyak hal tentang inovasi dan teknologi, beberapa dari mereka kini Drop Out dan sukses menjadi entrepreneur 🙂

Lalu apa yang membuat mereka berani mengambil keputusan tersebut?

Daniel Maren, dia DO karena ingin fokus menjalankan perusahaan barunya yang bergerak di bidang Solar Power Electronic. Dia fokus mengembangkan inovasi berupa sebuah alat yang dapat membantu menghemat dan memberikan efisiensi pada perangkat photovoltaic berskala besar. Alat ini biasanya digunakan pada instalasi solar panel.

Hasilnya ?

Kurang dari satu tahun sejak dia mengembangkan perusahaannya tersebut, perusahaan startupnya yang bernama Dragonfly Systems diakuisisi oleh SunPower, salah satu perusahaan solar panel terbesar di dunia. Nilai akuisisinya sendiri bernilai puluhan juta dollar.

http://www.greentechmedia.com/articles/read/SunPower-Acquires-Dfly-Systems-a-Solar-Power-Electronics-Startup

Kini kawan saya tersebut masuk dalam daftar Top 30 under 30 oleh Forbes Magazine, yaitu daftar 30 orang yang umurnya dibawah 30 tahun dimana karyanya telah diakui dunia dan menjadi entrepreneur sukses di usia sangat muda.

http://news.stanford.edu/thedish/2014/01/17/undergraduate-trio-makes-30-under-30-list-for-energy-innovation/

http://www.forbes.com/pictures/mef45edded/daniel-maren-20-andrew-ponec-20-darren-hau-20/

Satu lagi bernama John Backus, kawan saya yang satu ini sukses menjalankan perusahaan startupnya bernama Blackscore, sebuah perusahaan startup yang fokus pada layanan security untuk payment.

Startupnya tersebut masuk di salah satu program incubator paling bergengsi didunia bernama Y-Combinator dan telah menerima pendanaan jutaan dollar dari berbagai Venture Capital terkemuka.

http://techcrunch.com/2014/06/26/blockscore-lands-2m-in-funding-for-making-i-d-verification-easier/

Kisah kawan-kawan saya yang DO dari Stanford ini juga dimuat di BusinessInsider > http://www.businessinsider.com/r-special-report-at-stanford-venture-capital-reaches-into-the-dorm–2014-12?IR=T&

Mendengar cerita dari kawan saya Daniel Maren yang sedang berkunjung ke Jakarta ini saya begitu senang dan bersemangat.

Semalam suntuk dari sore hingga tengah malam kami berdiskusi banyak hal, kami berdiskusi mengenai peluang-peluang kedepan dan tantangannya. Kami berencana untuk bisa berkolaborasi kedepannya, hal ini didasari atas dasar visi kami yang sama yaitu ingin membantu memecahkan masalah terbesar umat manusia.

Kebetulan saya sendiri juga sudah lama memikirkan akan peluang untuk memasuki bisnis di bidang renewable energy. Saya merencanakan untuk memasuki bisnis ini dalam kurun waktu 5 tahun kedepan.

Kawan-kawan saya yang DO dan berani mengambil resiko tinggi ini telah membuktikan kalau mereka berhasil dengan keyakinannya itu.

Saya mendoakan agar mereka bisa seperti Steve Jobs yang juga Drop Out dari kampus Reed College dan berhasil membangun salah satu perusahaan paling inovatif di dunia bernama Apple. Saya yakin mereka akan membuktikannya!

Dari perkenalan ini saya mengambil kesimpulan kalau ternyata tidak ada yang kebetulan dalam semua proses ini, saya sangat yakin Tuhan lah yang telah mengaturnya sedemikian rupa, selaras dengan mimpi dan tujuan hidup saya untuk bisa berguna bagi banyak orang nantinya.

PS:
Artikel ini bukan mengajak anda yang masih kuliah untuk ramai-ramai mengikuti mereka DO, namun ingin menunjukan bahwa keberanian mereka mengambil keputusan, mengelola resiko dan fokus di usia mereka yang masih sangat muda patut kita acungi jempol. Saya sendiri walaupun sudah menjalankan perusahaan tetap saya usahakan untuk bisa menyelesaikan kuliah S1 saya. Semoga 2016 nanti saya bisa wisuda 🙂

Advertisements

6 thoughts on “Kisah Kawan-Kawan Yang Drop Out dari Kampus Paling Bergengsi di Dunia

  1. Rizki d

    Luar biasa artikelnya mas, tapi steve jobs tidak pernah jadi mahasiswa stanford mas dia pernah kuliah di reed college, oregon lalu DO dari sana

    Reply
  2. William Sarfat

    Saya mahasiswa D3, jurusan mekatronika, semester 2; yg juga ingin memiliki pencapaian seperti mereka. Nilai IP smt.1 saya 2,86 (rendah), krn saya tak mampu mengikuti mata kuliah teori (kalkulus, mekanika fluida, dsb) di kampus.

    Kadang saya sedih atas hal itu, dan saya tahu saya akan memiliki nilai yg buruk juga di semester 2 yg mungkin lebih parah. Saya tertarik utk mengembangkan mata kuliah yg saya minati yaitu microcontroller, PLC, SCADA, dn bbrp lainnya. Namun sy belum menemukan tempat utk bisa mngembangkan hal itu.

    Saat ini saya punya 2 kemungkinan:
    1. Terpaksa drop out, kmudian bekerja skaligus mwujudkan keinginan saya tersebut
    2. Bisa kuliah, dan bangkit dr keterpurukan sy di semester 1 dan 2

    Reply
  3. mysukmana

    S2 saya dropout, dan sekarang saya sedang mengembangkan start up bersama teman saya..alhamdulillah berjalan..Bismillah, keinginan keinginan dan passion harus diselaraskan

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s